Skip to content

Mimpi Castro

esjepe-castro

Semalam saya mimpi bertemu dengan El-loco Fidel Castro, pemimpin revolusi Kuba yang “tak bisa ditaklukan” oleh 11 Presiden Amerika, mulai dari saat pemerintahan Dwight Eisenhower (1953-1961) hingga Barrack Obama (2008-2016)

Castro tampak sumringah, mungkin karena ia sudah bebas dari rasa sakit yang dideritanya, mungkin juga senang karena tak pusing lagi mengurus negara dan segala persoalan duniawi lainnya.

“Wah, Indonesia lagi jadi mainan ya… Memang akan selalu begitu kalau orang Islamnya ribut terus sendiri. Gimana mau bikin persatuan bangsa, kalau persatuan dalam agamanya aja nggak ada. Bukankah sebagai mayoritas, umat Islam Indonesia dibebani amanah lebih besar untuk menjaga, memajukan dan melindungi bangsanya?”.

Tangan kanannya memegang cerutu, mulutnya kembali terbuka “80 persen penduduknya beragama Islam, mulai aja dari satu agama terbesar, baru ajak agama lainnya. Jika Islam bersatu, Indonesia maju. Orang Islam bisa jadi pionirnya”.

Saya cuma bergumam pelan, “Islam bersatu, Indonesia maju”.

Lokasi pertemuan kami sepertinya di sebuah sudut kota Havana, telunjuknya mengarah kepada saya, “Banyak yang tidak menginginkan itu, orang Islam diadu-domba dengan yang non Islam, selain mereka juga dipertengkarkan dengan sesama agama Islam. Bagaimana bisa menjalankan amanah itu jika kalian ribut melulu dan sulit bersatu?

Dibukanya topi hijau tentara yang jadi ciri khasnya, sambil duduk dan memegangi jenggot, dia melanjutkan, “Non Islam banyak yang termakan oleh propaganda yang mempersepsikan seolah agama Islam itu ganas, banyak di antara mereka ketakutan dan percaya bahwa Islam itu agama tak berperikemanusiaan karena ada di antara mereka yang pernah bentrok. Masih banyak di antara para non Islam ini mungkin juga takut kalau Islam bersatu, mereka banyak yang belum menyadari bahwa bersatunya umat Islam Indonesia JUSTRU akan membawa ketentraman dan kedamaian.

Dia kemudian berdiri dari duduknya, sambil merapikan kemeja kalimatnya berlanjut, “Di sisi lain, memang ada juga non Islam yang tak bisa menempatkan diri, memancing di air keruh, bikin suasana makin gaduh. Ingatlah bahwa perdamaian harus datang dari dua pihak, ibarat tangan kanan adalah toleransi, tangan kiri adalah tahu menempatkan diri. Dari kedua belah tangan yang bekerja dengan kompak itulah kemajuan dari sebuah bangsa besar, bangsa yang berdiri karena keberagaman akan dihasilkan”.

Tapi, apa pun problem yang sedang terjadi di negerimu, selesaikan semua dengan dialog. Setiap persoalan pasti ada solusinya. Soekarno dulu pernah bilang, RUKUN AGAWE SANTOSO, kamu sudah lupa?”

“Pak Fidel…!” saya mencoba mengangkat tangan hendak bertanya. Mendadak saya terjaga, tangan saya terangkat melanggar cangkir yang ada di samping tempat tidur, jatuh berantakan di lantai.

Seisi rumah terkejut, bangun dan bertanya, “Ada apa?”.
Sambil merapikan cangkir kaleng yang tumpah saya cuma bergumam, “Islam bersatu, Indonesia maju… toleransi… tahu diri…”

Semoga mimpi dan saran Fidel itu bisa kita wujudkan…

Selamat jalan, Fidel!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Hitamanis, Pandang Tak Djemoe

Sidarta Studio

Follow us on Twitter

%d bloggers like this: